Total Tayangan Halaman

Jumat, 07 Mei 2010

TERNYATA DIA BISEX

TERNYATA DIA BISEX

Ini berawal dari sebuah persahabatan yang terjalin antara aku (Erlia), Mita, Kiki, dan Adi. Sejak kecil kami selalu bersama. Hingga akhirnya waktu membawa kami pada banyak perubahan. Namun kami selalu bersama, dunia seperti hanya milik kami berempat. Diantara kami berempat, aku paling dekat dengan Adi. Cowok manis berpostur tubuh tinggi yang satu tahun lebih tua dari aku. Aku dan Adi sering berbagi cerita dan bertukar pikiran. Hingga tanpa kami sadari, kedekatan itu akhirnya mendatangkan rasa yang seharusnya tidak kami rasakan.
Setelah sekian tahun kami saling dekat, aku sangat terkejut ketika malam itu Adi bercerita bahwa dia hanya anak angkat. Dan dia ingin tahu siapa orang tua kandungnya. Saat itu aku hanya bisa menghibur dia, aku meyakinkan dia bahwa orang tua dia adalah orang yang selama ini membesarkan dia dengan penuh kasih sayang. Adi memang anak tunggal, tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa dia hanya anak angkat. Setelah malam itu, kami tidak pernah lagi membicarakan hal itu, meskipun aku tahu bahwa sebenarnya Adi menaruh harapan besar untuk bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.
Waktu terus berjalan, membawa kami pada kedewasaan kami. Intensitas bertemu dengan teman-teman sudah banyak berkurang. Hanya aku dan Adi yang masih sering berkomunikasi. Hingga ketika itu, Adi mengutarakan perasaannya kepadaku. Dia mengaku memendam perasaan cinta terhadap aku.
Oh Tuhan, aku sama sekali tidak percaya dengan semua ini. Selama bertahun-tahun ini Adi memang sering bercerita tentang wanita yang dia cinta, wanita yang selalu dia banggakan di depan aku, tanpa aku tahu siapa orangnya. Tapi malam itu, dia berkata bahwa wanita itu adalah aku.
Aku bingung harus bagaimana. Aku tidak pernah menyangka. Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagiamana perasaan Adi ketika aku selalu bercerita tentang laki-laki yang selalu dekat dengan aku. “ Sakit Er, sakit… setiap aku mendengar kamu bercerita tentang pacar kamu. Tapi aku bisa apa? Aku tidak mau merusak kebahagiaan kamu. Kamu tahu Er, cinta sejati itu bahagia melihat seseorang yang dicintai bahagia, meskipun bersama orang lain. Aku turut bahagia saat kamu merasakan bahagia” itu kata Adi.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Adi. Saat itu aku sama sekali tidak menyimpan perasaan cinta untuk Adi. Aku menolaknya, aku hanya ingin kami bersahabat saja. Setelah itu kami menjadi saling canggung, entah kenapa cinta itu malah menjauhkan kami.
Saat itu aku benar-benar merasakan kehilangan. Aku kehilangan Adi. Rupanya Adipun demikian, dan kami kembali dekat dengan diwarnai rasa yang berbeda.
Adi yang masih setia dengan perasaanya, dan aku yang sedang mempelajari setiap rasa yang ada dihatiku. Ternyata aku jatuh cinta kepada Adi. Rasanya ini mustahil. Adi menyatakan cintanya kepada ku untuk kesekian kalinya. Tapi entah kenapa selalu aku jawab “Kita kaya gini aja ya Di, kamu sayang sama aku, aku juga sayang sama kamu” hanya itu. Aku sadar itu jawaban yang kurang memastikan semuanya. Dan aku tidak pernah tahu apa pikiran Adi saat itu.
Tetapi kami tetap dekat. Dia benar-benar mewarnai hari-hariku. Ya, anggap saja kami hts’an (hubungan tanpa status). Adi banyak mengajarkan aku akan cinta, dia selalu menguatkan aku di saat aku rapuh. Bahkan aku merasa dialah belahan jiwaku.
Setahun lebih kami hts’an, selama itu pula banyak hal yang terjadi. Hingga aku merasakan ada perubahan dalam diri Adi. Aku merasa cintanya untuk aku berkurang, semua itu bisa aku rasakan dari sikap-sikapnya. Sementara, aku baru saja bisa mencintainya.
Kemudian aku memberanikan diri, meminta kepastian Adi. Mungkin aneh, tapi begitulah yang terjadi. Aku bertanya kenapa dia berubah? Apa karena ada wanita lain? Atau karena perasaannya memang sudah luntur?
Apa jawaban Adi? Dia bilang dia masih sangat mencintai aku. Tetapi dia juga bilang bahwa dia tidak bisa membahagiakan aku. Entah apa maksudnya aku bingung. Perasaan yang aneh, disaat aku tergila-gila padanya, disaat aku telah masuk gerbang cintanya, dia menjatuhkan aku begitu saja.
Hingga beberapa saat lamanya perasaan itu masih tertahan dan aku mencoba mengutarakan segenap perasaanku pada Adi yang kini mulai menjauh dari aku.
Harapan dan doaku kiranya tidak tercapai. Karena hingga saat itu semuanya tidak berubah. Malah semakin buruk. Cinta yang aku pertahankan runtuh begitu saja, disaat aku sedang ingin merengkuhnya. Malam itu, disaat aku berharap akan ada titik terang untuk cintaku, dia justru meruntuhkan semuanya. Padahal dia tahu, bagaimana aku malam itu. Dan aku yakin, dia tidak tuli, dia pasti mendengar apa yang aku katakan.
Aku hancur ketika aku ingat akan sejuta harapanku terhadap dia dan panjangnya penantianku yang setiap detik hanya ada namanya. Tetapi ternyata diapun tidak mau membela cinta yang telah ada. Saat itu dia berkata “ Aku sayang Er sama kamu. Aku pergi dari kamu bukan karena wanita lain. Hingga detik ini hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Tapi aku ingin kamu bahagia sama orang lain, aku tidak bisa menjadikan kamu sebagai teman hidup aku. Kenapa, Er?? Semua karena keadaan. Hanya Tuhan dan aku yang tahu, terlebih karena aku tidak bisa membahagiakan kamu.”
Suatu alasan yang tidak akan pernah bisa aku terima. Dan aku sama sekali tidak bisa mencerna apa makna dibalik semua ucapan dia.
Setelah itu, kami kembali menjauh. Ternyata aku sangat mencintai dia. Banyak hal yang aku lakukan untuk menepiskan semua rasa ini, supaya setiap detik pikiranku tidak melayang-layang kesakitan. Aku mencari teman, aku keluar malam, aku kerja keras untuk membunuh waktu-waktu yang menyakitkan itu. Tapi ternyata semua itu tidak bisa mengubah rasaku.
Wahyu, Rully, Yohan, Kries, Fian, Agus, Icha, adalah daftar nama-nama lelaki yang berusaha singgah dihatiku. Tapi tenyata aku tidak pernah bisa untuk menerima mereka. Entah, aku merasa hatiku sudah benar-benar terkunci sejak Adi meninggalkan aku.
Waktu terus berjalan, satu tahun setelah itu, dia datang lagi. Betapa bahagianya hatiku. Dan aku tidak bisa menolak kehadirannya, sekalipun dia pernah meninggalkan aku begitu saja. “Aku ingin menebus dosa-dosa aku Er, aku sadar aku sudah menyakiti hati kamu. Selama ini aku berfikir Er, ternyata aku membutuhkan kamu. Aku janji aku tidak akan membuat kamu menangis lagi. Aku sayang sama kamu, Er.”
Aku benar-benar bahagia. Akhirnya rasaku terbalas, dan kamipun kembali merangkai cerita yang sempat terhenti oleh waktu.
2 Oktober 2008, hari yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Benar-benar indah. “ aku akan selalu ada untuk kamu, selam kamu ada untuk aku. Untuk itu, aku ingin membuat kamu betah tinggal di hatiku. Karena aku tidak ingin hati ini merapuh tanpa adanya kamu, Er” itu kata Adi.
Hari-hari indah kami lalui bersama. Tidak jarang pertengkaran datang, tetapi kami selalu bisa menyelesaikannya. Bahkan dihari ulang tahun ku, Adi memberikan sebuah cincin yang bertuliskan namanya. Aku benar-benar bahagia, dia membawaku terbang, mungkin seperti itulah rasanya. “Will you marry me?” itu kata Adi. Rasanya masih terlalu dini dan aku hanya tersenyum. “Kita lihat saja nanti” jawabku.
Baru satu bulan aku resmi pacaran dengan Adi, aku mulai merasakan hal-hal yang tidak aku suka. Adi sangat metroseksual, dan egonya sangat tinggi. Rasanya ini bukan Adi yang aku kenal sebelumnya. Bahkan dia sangat tidak peduli dengan aku. Aku semakin merasa dia tidak seperti laki-laki senormalnya. Dia tidak bisa menjaga perasaan wanita. Perasaannya sangat sensitif.
Semakin hari aku semakin sakit dengan sikapnya yang seperti itu. Tapi aku hanya diam, yang aku lakukan justru mencari-cari dimana salahku hingga Adi seperti itu. Aku mencoba membicarakan semua pada Adi. Tapi dia tidak pernah bisa diajak serius. Setiap ketemu dia selalu asik sendiri dengan handphonenya. Rasanya aku ingin marah, aku sangat kecewa. Tapi aku bisa apa? Aku terlalu mencintai dia, hingga apapun perlakuannya selalu bisa aku terima. Namun aku terus menunggu dan menunggu Adi berubah. Waktu- waktu yang sangat menyakitkan.
Namun kenyataan tidak seperti apa yang aku harapkan, ketika saat itu Adi membuat sebuah pengakuan melalui pesan sms. “ Er, aku ini hina, aku ini pendosa. Aku tidak pantas untuk kamu, kamu terlalu baik untuk aku. Aku ini sakit Er, aku BISEX!! Dan Nico, orang yang selama ini aku ceritakan ke kamu, dia Boy Friend aku. Maafkan aku Er, aku bohong sama kamu. Tapi sumpah, selama ini aku benar-benar sayang sama kamu. Sebenarnya aku sudah lama mempunyai perasaan seperti ini. Itulah kenapa aku selalu bilang bahwa aku tidak bisa bahagiakan kamu. Aku pikir perasan menyimpang ini akan hilang seiring waktu, terlebih aku punya kamu. Tapi satu bulan terakhir ini perasaan itu muncul lagi Er, kemudian aku kenal Nico. Dia yang meyakinkan aku, bahwa tidak ada salahnya mencoba. Dan benar Er, aku mendapatkan sebuah kenikmatan yang selama ini aku cari. Maafkan aku Er atas semua ini. Sekarang kamu tahu siapa aku sebenarnya. Kamu boleh permalukan aku didepan semua teman-teman kalau itu bisa bayar semua sakit hati kamu karena aku. Aku baru jujur sekarang, karena saat itu aku belum siap kehilangan kamu. Tapi saat ini aku sudah tidak tahan melihat kamu sakit. Aku tidak mau kamu semakin sakit, Er…”
Membaca semua itu badanku serasa tak bertulang. Tuhan… inikah kenyataan? Inikah balasan untuk kesetiaan dan ketulusanku selama bertahun-tahun? Inikah arti air mataku? Inikah jawaban dari semua?????
Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Bangunkan aku dari mimpi buruk ini, bangunkan aku Tuhan.... Aku benar-benar bingung, rasanya dada ini ingin meledak-ledak. Dan tidak mungkin aku menceritakan semua ini kepada teman-teman. Demi kebaikan Adi, aku tidak ingin hal ini mereka ketahui.
Kemarin aku masih sangat menggilainya, aku sayang sama dia sekalipun saat itu sangat menyakitkan menghadapi sikapnya, bahkan saat itu aku bangga punya dia. Tapi malam itu aku dikejutkan oleh sesuatu yang tidak mungkin bisa aku terima. Tidak mudah untuk menepiskan semua kenangan yang terlewatkan bersama dia. Hukuman apa ini Tuhan??? Kenapa saat aku mulai mengenal cinta, hanya sakit yang aku dapat setelahnya.
Hatiku kembali melemah, aku lelah. Aku lelah menangis, lelah marah, lelah merasa gundah dan terengah-engah. Mengapa kenyataan hidup selalu menatapku dengan pongah? Aku berharap dia bahagia. Kebahagiaan yang aku tak tau seperti apa bentuknya.
Terlintas dipikiranku, masih pantaskah aku menganggap dia adalah segalanya? Masih pantaskah aku menganggapnya sebagai malam yang selalu hadir melengkapi hariku? Masih pantaskah aku memikirkan dia?masih pantaskah aku menempatkannya diurutan teratas hatiku??? Kenapa ketika cinta itu masih tumbuh subur di hatiku, tiba-tiba kenyataan harus membuat hati ku semakin terluka? Entah apa yang aku rasakan sekarang, aku tidak bisa hidup tanpa dia, tidak bisa aku bayangkan malam-malam yang akan datang menyiksaku, aku tidak sanggup!!! Tapi bagaimana dengan kenyataan?
Entahlah, rupanya aku buta dengan kenyataan. Aku tidak peduli dan aku sangat mencintainya walau harus aku bayar dengan air mata sekalipun. Meskipun aku tahu, dihatinya tidak hanya aku. Aku ikhlas, aku terima dia BISEX.
Namun sejak malam itu, semua berubah. Adi tak pernah menampakkan diri. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan dia, mungkin dia sudah asik dengan dunia barunya. Dan aku hanyalah sepah baginya. Aku tidak menyangka akan setega ini dia kepada ku, dan secepat itu pula dia melupakan aku saat dia sudah berbahagia di dunianya. Sepertinya aku hanya menjadi pelampiasan perasaannya saja.
Aku masih bertahan dengan rasaku. Rasa yang sepertinya tidak akan pernah mati. Terkadang aku benar-benar lelah dan marah. Aku mencintainya dalam waktu yang tidak sebentar. Tapi ternyata aku gagal. Aku gagal membuatnya bahagia, hingga dia berjalan diatas kesalahannya, mencintai sesama jenis.
Tapi aku harus tahu, aku harus mengerti dia! Tuhan, bukakan hatiku, berikan aku kesabaran, kekuatan dan bukakan pintu maafku untuknya. Aku sangat mengerti, bahwa aku butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa menerima semuanya. Jika ini klimaks dari semuanya, dan aku telah merasa lelah, setidaknya aku sudah berusaha bertahan untuknya. Aku percaya ini takdir, maafkan aku yang terlalu menuntut mu untuk masuk ke dalam dunia yang tak bisa kamu singgahi.
Saat ini, aku hanya berjalan mengikuti waktu, menggerakkan jasatku. Entah sampai kapan akan aku lalui hari-hari seperti ini. Aku hanya pasrah. Berharap tapi tak ada yang diharapkan, bermimpi???? Bahkan untuk bermimpipun aku tak sanggup. Begitu besar cinta berpengaruh dalam hidupku. Rasanya aku tak mampu membuka mata. Aku benar-benar hanya berjalan mengikuti waktu, tanpa tahu arah dan tujuan kedepanku. Rasanya aku ingin menyudahi apapun yang aku kerjakan sekarang.
Seiring waktu, perlahan aku mulai mengerti, aku sangat menghargai kejujurannya. Aku tidak boleh egois, selama ini dia sudah berusaha membahagiakan aku. Meskipun akhirnya dia kembali menjatuhkan aku. Aku tahu, bukan ini keinginannya, bukan ini pula yang dia harapkan dari hidupnya. Ini naluri yang datang dari dalam hati, yang ternyatapun dia tak kuasa menolaknya.
Kini aku mencoba bertahan diatas sakit ini. Berlari dan terus berlari menghindari puing-puing luka. Tersenyum diatas tangis dan mencoba tegar di dalam luka. Satu hal yang aku ingin tahu, APA KABAR HATI KAMU, ADI??
Hatiku sudah benar-benar terkunci.

Tidak ada komentar: