Total Tayangan Halaman

Selasa, 12 April 2011
















“AKU KAN ADA UNTUK DIRIMU”

Berawal dari sebuah pertemuan yang aku pikir sebelumnya tidak akan membawa aku dan dia berjalan bersama hingga detik ini. Dia membawa sesuatu yang bisa membuatku terbangun dari keterpurukanku, terbebas dari cinta matiku dengan seseorang yang tidak bisa membalas cintaku, dia yang mengeluarkan aku dari sebuah penantian panjang yang tak berujung,dia membawa sejuta harapan baru dalam hidupku, dia pula yang mampu menumbuhkan rasa percayaku akan cinta, kemudian dia mengajarkan aku apa itu cinta yang sesungguhnya, cinta yang bukan hanya sekedar kata-kata.
Saat itu, kehadirannya bagaikan setetes air diatas gersangnya hatiku. Dia membawa sebuah harapan baru dan secerca kebahagiaan yang tak kuasa aku tolak. Meskipun awalnya aku sangat ragu, berfikir semua akan seperti sebelum-sebelumnya. Namun dia mampu meyakinkan aku, meyakinkan hatiku dengan ketulusannya, dengan kesabarannya, dan dengan cintanya. Dia juga membuatku merasa lebih berarti, karena telah menempatkan aku di sebagian hatinya, selalu menyisihkan sebagian pikirannya untuk memikirkan seorang aku, menyediakan ruang rindunya untuk aku, memberikan sebagian cintanya untuk aku, dan aku sangat bersyukur atas semua itu. Menguatkan hatiku bahwa ternyata aku layak menjadi seseorang yang dicintai. Tidak akan habis rasa kagumku akan dia, dia yang tidak sempurna, tapi selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk aku.
Senin, 6 April 2009.......
Waktu yang tidak akan pernah aku lupakan dalam sejarah perjalanan hidupku. Waktu dimana untuk pertama kalinya Tuhan mempertemukan aku dengan dia. Dari situlah awal dimulainya cerita ku dengan dia. Dia yang selalu ada untuk aku dalam setiap waktu dihidupku, entah pesona apa yang dia punya hingga aku selalu merasa nyaman ketika aku bersamanya.
Awalnya aku belum sepenuhnya yakin bahwa dia adalah alasanku berbahagia, entah kenapa. Meskipun kenyataannya dia selalu ada di hati, otak, dan pikiranku setiap waktu. Aku pikir aku sedang beradaptasi dengan perasaanku yang baru, berusaha meyakinkan hatiku bahwa benar dia adalah alasanku berbahagia. Dan aku selalu belajar mencintainya dari caranya mencintai aku.
Terkadang memang tidak semua bisa berjalan sesuai harapanku, itulah yang tidak jarang membuatku murka karena aku merasa apa yang aku inginkan tidak dia penuhi, atau bahkan dia tidak mengerti apa yang aku mau. Tetapi dia selalu meredamkan emosiku. Dengan penuh kesabaran dia menghadapi aku yang keras kepala dan egosentris. Aku sangat sadar dengan sifatku yang seperti ini, sensitif, tidak bisa memanajemen hati dan ego. Kesabarannya lah yang mampu membuat aku dan dia masih beriringan hingga saat ini.
Dia tahu baik dan burukku, begitu pula aku. Aku tahu bagaimana dia. Akupun tidak pernah menyangka sebelumnya jika aku dan dia akan sejauh ini. Tapi sedikitpun aku tidak pernah menyesalinya, karena aku sangat mencintainyaa walau harus aku bayar dengan air mata sekalipun. Mungkin klise dan nampak sangat bodoh. Memang benar, aku bodoh, aku gila karena dia, hingga apapun aku lakukan untuk dia. Tak jarang terjadi kontra dari mzQ, adikQ, pakdeQ, dan sahabat-sahabatQ yang menolak dia. Tapi aku tidak memperdulikan mereka semua, dan satu harapanku, dia tidak akan membuatku kecewa karena menghiraukan suara orang-orang terdekatku. Meskipun aku sadar, (“AKU SAYANG KAMU, DAN ITU UNTUK SELAMANYA”) hanya dari kata-kata itu jaminan semua harga diriku sebagai seorang wanita. Kalimat yang selalu terlontar dari bibirnya, yang entah bagaimana ujungnya nanti, aku tidak tahu. Aku hanya tahu, aku sudah terlalu jauh dengan dia, dan aku sadar aku berdiri diatas kesalahanku.
Tidak hanya sampai disitu, ceritaku dengan dia masih sangat panjang. Kebahagiaan yang sering aku rasakan terkadang membuat aku berfikir dan merasa takut jika suatu saat kebahagiaan itu akan terenggut. Setiap kali dia mengantarkan aku pulang, setelah itu selalu terselit diotakku, “ Kapan kita akan bertemu kembali, dan hal gila apa yang akan kita lakukan bersama lagi? “. Dia sangat berarti, dia bagaikan crayon yang memberi warna dalam canvas kehidupan aku.
Aku sadar perubahan itu abadi, dan mau tidak mau aku harus menerimanya ketika perubahan itu datang untuk menjauhkanku dengan dia. Aku tahu selama ini dia selalu berjuang untuk cita-citanya. Jatuh bangun, dia tidak pernah menyerah, bahkan tidak menyiratkan keluh kesah yang berarti dihadapanku. Padahal aku tahu, dia pasti galau ketika dia mengalami kegagalan. Entah kenapa, apa mungkin karena aku bukan sahabat yang baik untuk dia, hingga dia tidak pernah menjadikan aku sebagai teman ceritanya. Aku anggap dalam hal ini dia tidak membutuhkan aku, mungkin dia sudah mempunyai sandaran hati untuk hal itu, atau mungkin juga karena dia adalah seorang yang kuat. Aku menghargai itu, meskipun sering karena hal ini aku merasa tidak dianggap.
Dia selalu memberi pengertian jika suatu saat nanti dia akan pergi untuk cita-citanya. Aku tidak pernah menghiraukan semua itu, karena yang aku rasakan saat itu, aku sedang menikmati kebahagiannku dengan dia. Meskipun tidak munafik, rasa takut akan kehilangan itu selalu ada. Hingga ketika tiba waktunya dia pergi, aku hanya bisa menangis.
Satu minggu sebelum dia pergi, rasanya hatiku sudah mulai merapuh. Aku benar-benar tidak sanggup. Padahal ketika itu dia masih selalu disampingku, di sela-sela sisa waktunya dan ditengah lelahnya dia selalu menyempatkan datang untuk aku. Aku sangat menikmati saat-saat terakhir kebersamaan itu, dan aku merasakan betapa sayangnya dia kepada aku.
Jumat malam, 4 Juni 2010 ......
Malam terakhir dengan dia, sebelum esoknya dia pergi. Malam itu benar-benar puncak dari seluruh emosi perasaanku. Aku tidak SANGGUP!!!! Aku tidak sanggup menjalani rutinitasku tanpa kehadirannya. Saat pulang kerja, saat kuliah, malam-malamku, malam Mingguku, pantai, bukit
bintang ......... Aku takut menjalani hari esok tanpa dia. Tapi kepergiannya sudah didepan mata. Meskipun itu juga hanya bersifat sementara, tapi...... andai dia tahu bagaimana hati aku malam itu. Rasanya aku ingin menyudahi semua apapun yang aku lakukan saat itu. (Sumpah, aku tidak sekuat yang aku bayangkan, hingga detik ini saat aku ingat malam itu aku gak kuasa menahan air mata aku, rasanya aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. CRY cause remember).
Dan malam itu .......
Menjadi malam terakhir ku dengan dia. Malam terakhir aku memiliki dia yang aku kenal ketika itu. Dan aku tidak pernah berfikir bahwa dia akan berubah, aku yakin kelak dia akan tetap menjadi dia yang aku kenal ketika itu. Malam yang tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun.
Sabtu pagi, 5 Juni 2010
Pagi yang membawa aku jauh dari dia. Aku akan selalu ingat senyum terakhir yang dia berikan saat dia beranjak pergi meninggalkan aku. Dengan berat aku kembali pulang, ditemani air mata yang tidak hentinya menghujaniku. Andai dia tahu bagaimana hatiku pagi itu. (Masih selalu menangis setiap ingat itu. CRY cause remember)
Bukan aku takut kehilangan dia, karena aku sangat percaya dengan dia. Tapi perasaan itu lebih pada ketidaksanggupanku menjalani semuanya tanpa dia, setelah sebelumnya kita selalu sama-sama.
Setelah dia pergi,
Teman-teman dan semua aktifitasku, hanya itu kekuatan yang aku punya untuk mengusir semua penat diotakku. Semua seperti tak berarti saat sama sekali tidak ada komunikasi dengan dia. Rasanya aku hanya sedang membunuh waktu.
Sabtu, 19 Juni 2010 ....
Dia lolos, dan masih satu langkah lagi . Aku bahagia , dan aku bangga. Meskipun itu artinya aku akan semakin jauh dari dia.
Kamis, 24 Juni 2010 ....
Telfon terakhir dari dia sebelum dia karantina. Sejuta kata cinta dan janji manis dia ucapkan untuk meyakinkan hati aku. Rasanya semakin berat, tapi aku sadar ... apa yang akan dia jalani lebih berat daripada apa yang aku rasakan.
Jumat, 25 Juni 2010 ....
Ibunya telfon, memberi kabar bahwa dia lolos. Aku turut bahagia, akhirnya apa yang dia cita-citakan dapat dia raih. Mulai detik itu, aku sudah tidak mendapat kabar lagi tentang dia. Aku hanya senantiasa mendoakannya, semoga dia selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Aku selalu merasa kehilangan, aku seperti orang bingung, terkadang aku merasa galau, dan pikiranku kosong.
Aku selalu berusaha ..... sekuat mungkin aku bertahan. Bahkan aku seperti orang gila saat aku berusaha menahan air mataku.
Rindu yang tidak bisa tersampaikan, andai dia tahu, setiap malam aku selalu memikirkannya, setiap saat hanya dia, dia dan dia disetiap sudut di otakku. Aku selalu tersiksa dengan perasaan itu, dan aku benci dengan malam-malam yang selalu menyiksaku. Beruntung aku punya mzQ, aku punya Ibu, aku punya Kiki, dan Ibunya yang selalu meyakinkan aku.
Aku sadar ini fase sulit yang harus aku lewati, aku bersyukur kemarin aku sudah pernah menikmati bahagia dengan dia dan ini adalah masa dimana aku harus bersabar. Aku juga semakin paham, bahwa inilah pasang surut kehidupan. Aku harap semua akan terlewati dengan cepat, meskipun aku tidak pernah bisa mengerti apa sesungguhnya yang aku nantikan dari waktu-waktu yang aku jalani saat ini.
Aku sering membayangkan akan ada sebuah pertemuan yang begitu indah. Saat dimana aku bisa meluapkan semua rasa yang setiap detik aku pendam dan mengendap di hati aku. Aku begitu yakin, saat itu akan menjadi waktu yang sangat indah. Entah kapan dan dimana. Hingga akhirnya,
Sabtu, 11 September 2011 ....
Setelah tiga bulan tanpa komunikasi, aku bisa melihatnya kembali. Aku melihat dia dengan sesuatu yang baru. Rasanya ingin meneteskan air mata. Aku bangga melihatnya, tapi entah kenapa aku merasa tidak mendapat feel seperti apa yang selama itu aku harapkan. Yah, aku sadar,,, dia sudah mempunyai dunia yang baru. Sulit aku terima, mengingat dulu betapa loyalnya dia terhadap aku. Aku bukan apa-apa, bukan lagi siapa-siapa. Aku hanya seberkas kisah lalu yang MASIH turut berjalan mengiringinya. Dan benar, malam itu adalah malam terakhir aku memiliki ICHA ku. Hilang rasaku atas pencapaianku selama ini. Jujur, rasa ini tidak sekuat seperti sebelumnya.
Minggu, 26 September 2010 ....
Pesiar pertamanya ....
Seterusnya setiap Minggu pagi dia pulang.
12 November 2010 ...
Hari pelantikannya di Solo. I’m proud of him .... not only “ Rica” he become “PRADA RICA”
Cuti pertamanya, dan aku sangat menikmati kebersamaan itu. Bahkan aku sangat berambisi untuk memforsirnya agar dia selalu menemani aku setiap detik. Tanpa sediktpun berfikir, bahwa dia juga manusia yang bisa merasa lelah dan harus tidur. Yang aku tahu, aku ingin saat dia ada, dia untuk aku. Aku sadar, dia tidak sepenuhnya milik aku. Tapi andai dia tahu kenapa aku seperti ini.
Setiap saat, saat dia tidak ada, aku hanya bisa diam, memendam semua hasratku untuk selalu bersamanya. Dan sama sekali tidak ada pelampiasan untuk perasaan itu, aku tersiksa. Aku haus akan dia. Tapi aku hanya bisa diam. Itulah kenapa, saat dia ada, aku tidak ingin melewatkan sedetikpun waktu ku tanpa dia. Aku tidak peduli dengan alasan apapun. Yang aku tahu, apa yang aku mau dia penuhi. Karena aku tidak pernah minta apa-apa, aku hanya ingin ditemani. Terlalu besarkah apa yang aku minta, bila dibandingkan dengan semua yang sudah aku korbankan untuk dia??? Hmmm, hanya dia yang tahu. (huft, sudah mulai menggunakan emosi, tidak dengan hati ).

Jumat, 19 November 2010 ....
Dia melanjutkan pendidikannya di Bandung.
Hingga sekarang .................................................................................................
Dan dia, bukan lagi menjadi IchaQ yang pernah aku kenal sebelumnya.

Sabtu, 5 Juni 2010
The day he went away ......
Mulai saat itu, secara perlahan aku seolah terkikis. Rapuh dan seolah tak berarti. Dalam keadaan apapun aku selalu berusaha untuk survive, hingga akupun bisa bertahan hingga detik ini.
Mulai saat itu pula, aku mulai kehilangan. Bukan kehilangan akan dia, tapi aku kehilangan dirinya yang dulu. Sesuatu yang sangat sulit untuk bisa aku terima. Tapi ini kenyataan yang harus aku hadapi.
Kemudian aku sadar, BAHWA PERUBAHAN ITU SELALU ABADI. Namun perubahan tidak membawaku menjadi berubah karena perubahannya. Aku masih mendampinginya. Entah sampai kapan, jikapun harus berhadapan lagi dengan perubahan yang semakin menjauhkanku dengan dia, setidaknya aku pernah memberi kontribusi warna dalam lukisan kehidupannnya.
Dan selebihnya ......
Biarlah menjadi cerita antara aku dan dia dalam kehidupan kami masing-masing.

Last but not least,
Someday ........
If i’ll live without you,all you have to know is I LOVE YOU
And i will always do, till death do us part

I’ll love you even though we’re no longer a live
I’ll love you more than you know, sayangQ

Tidak ada komentar: